Update twitter dari Eka Kurniawan senin siang kemarin cukup menarik perhatian saya. Senin itu memang hari buku. Semua orang yang mengaku pecinta seni literasi—baik dengan status pembaca saja atau sekaligus menjadi penulisnya: penulis cengeng yang suka mengumbar kemilau karya populis-pragmatis, penulis buku-buku pesanan penerbit, penulis notes saja, penulis kritik sastra yang sukanya mencerca, dan berbagai label penulis lainnya—sibuk berkoar mengenai buku. Eka Kurniawan pun begitu….
‘Lelaki harimau’ ini, memanfaatkan jatah 190 kata yang ada di twitter untuk mengisahkan masa kecilnya serta kaitannya dengan kegemaran membaca. Dia bertutur, kegemarannya membaca novel menjadi semacam balas dendam. EKa kecil yang berada di pelosok, tidak mendapat asupan bacaan yang baik. Oleh karenanya, ketika dia dewasa dan diberi lingkungan kota yang memudahkan akses untuk membaca buku, di sinilah letak kehausan Eka akan buku mulai terbayar.
Saya menyukai cara Eka memberi alasan di balik hobi membacanya. Tidak klise, tidak ngegombal ‘pesona pintar’ seperti yang biasa khalayak lakukan. Tapi bukan alasan ini yang hendak saya urai….
Rasa haus Eka akan bacaan, pernah juga saya rasakan. Hanya saja, kalau Eka haus akan buku, maka saya lebih dahaga akan iklim yang membuat saya mengenal perbukuan, industri penerbitan, dan proses kreatif sebuah karya.
Saya tahu, saya tidak terlalu kutu buku. Seperti saya pun paham, saya orang yang lebih mempunyai kecenderungan untuk menilai, meneliti, dan merasakan. Maka bukan dahaga bacaan yang hendak saya puaskan, tapi sebuah iklim yang membuat saya paham ini loh proses kreatifnya. Inilah kisa seseoarang yang—mula-mulanya—haus tapi malangnya malah berujung pada ketersesatan kecil.
Usia 17 tahun adalah masa di mana saya begitu menghapal judul-judul cerpen yang ada di Horison. Tumpukan majalah dari tahun terbit 2000 hingga 2004 itu benar-benar saya lahap, hingga batas menghapal. Di situlah, muncul semangat-semangat kecil untuk meninggalkan lingkungan setempat, menuju kota mana pun, letak di mana saya akan tumbuh dengan perdebatan-perdebatan karya. Internet belum menjamur, sulit menemukan lahan komunitas berbasis karya tulis.
Kenyataannya gayung telah bersambut. Saya pergi ke Jogja, dengan tujuan singgah di sebuah komunitas sastra.
Saya terlanjur memberi tema artikel ini dengan “Dahaga Besar berakhir Ketersesatan Kecil”, maka saya khawatir, komunitas sastra yang pernah say ahuni itu diduga sebagai awal terjadinya ketersesatan saya yang haus.
Tidak! Tidak sama sekali! Saya tumbuh di komunitas ini, komunitas dengan basic member mahasiswa terlunta-lunta yang selain menulis juga rajin meloper koran ini dengan sangat bahagia. Asupan-asupan ilmu baru saya peroleh. Hingga tibalah tahun itu, tahun di mana saya mulai mengindustri dengan buku, dan saya tersesat….
Industri Buku Industri Luwak
Aktif menulis cerpen lalu mengirimkannya ke surat kabar (sekalipun di muat sebulan 2 kali) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Himpitan keadaan di 2009 lalu yang mempertemukan saya dengan salah seorang senior, dia terbiasa bermain di proyek buku. Tidak perlu disebutkan namanya, sebab konteks pebicaraan di sini terlalu negatif.
Kenyataannya dia memang sudah menerbitkan banyak buku. Dengan sistem limpahan judul dari penerbit, dia mempunyai tabungan outline cukup banyak. Butuh banyak orang untuk mengeksekusinya menjadi naskah. Saya direkrut….
Maka saya mulai meninggalkan cerpen, tidak lagi menulis di media, tapi lebih fokus menggarap buku. Segala macam buku. Kesehatan, parenting, hingga buku-buku praktis lainnya. Buku-buku praktis, sepraktis cara membuatnya.
- Kenapa sulit-sulit menerjemah bila terjemahan lain sudah ada?
2009, proyek ini saya ikuti dengan 4 teman lainnya. Saya mendapat limpahan buku A, sedang teman saya diaktifkan untuk menerjemah Rahiq Al Mahtum, buku history Muhammad dari kecil hingga peperangannya.
Teman saya ini memang mempunyai kompetensi di bidang bahasa arab. Tapi untuk menerjemahkan kitab Rahiq Al Mahtum yang setebal itu dengan gaya bahasa yang lumayan sastrawi, saya sedikit menyangsikan.
Hari-hari teman saya ini disibukkan dengan mencari terjemahan Raqiq Al Mahtum yang sudah beredar. Saya sendiri sebenarnya mempunyai terjemahan tersebut, versi penerbit Al Kautsar. Sekali lagi, saya sangat tidak yakin, kompetensi bahasa arab teman saya bisa menandingi terjemahan dari penerbi tersebut.
Kenyataannya, ketika deadline semakin dekat, sesuatu yang saya namai ketersesatan itu lahir.
Terjemahan Rahiq Al Mahtum itu dihadapkan di meja komputer. Mulailah teman saya menulis terjemahannya….
Saya heran, kalau memang berniat menerjemahkan, kenapa tidak ada kitab Rahiq Al Mahtum versi Arabnya. Sedang teman saya begitu lancer menyentuh keyboard computer. Apakah teman saya ini hapal teks-teks arab kitab Rahiq Al Mahtum sehingga tidak butuh kitab aslinya? Kalian lebih cerdas untuk mengetahui jawabannya.
Kalau kalian ingin dikatakan sebagai penulis, maka menyadurlah. Di sini area 100% benar-benar ‘menulis’. Kalian bisa menyimak kutipan kalimat dari pengisi sebuah workshop menulis yang pernah diadakan di rumah senior saya yang sekaligus pemilik order outline-outline dari penerbit itu.
“Mudah saja kok, menyadur itu, contohnya seperti kamu membeli buku menu-menu masakan. Beli 2 sampai 3 buku. Lalu kumpulkan menjadi satu buku baru, dengan menambahkan komposisi menunya atau bahkan menguranginya.”
Waktu itu kebetulan saya juga mendapat order untuk menyadur buku. Mekanismenya mudah. Saya cukup pergi ke Shoping, pusat buku-buku murah di Jogja, lalu mencari buku-buku terbitan tahun 90 sampai 2005. Lalu mulailah proses 100 benar-benar ‘menulis’ itu terjadi.
Memang benar-benar menulis. Saya cukup menaruh buku itu di depan computer. Semua ide tidak perlu diperbarui, cukup bahasa saja yang kita ubah.
“Mengubah bahasa itu sudah sebuah proses meng-create. Kita tidak salah, toh sudah melakukan proses kreatif dengan mengupgrade bahasa buku tersebut,” jelas senior tersebut. Soal tendensi kalimat tersebut, apakah lebih berbentuk alibi atau benar-benar sebuah legitimasi kalian yang lebih cerdas untuk mengetahui.
- 3. Salah kaprah copy-paste.
Baru kemarin hari saya mendapati buku agama dengan jumlah halaman yang sama persis seperti data dari sbeuah internet. Tanpa gubahan, tanpa editan, tanpa proses kreasi ide baru di dalamnya.
Membaca paragraph tersebut, saya berbesar hati saja. Bagi kalangan teman-teman yang biasa bermain untuk penerbit, hal demikian bisa ditanggapi dengan: efek mepetnya deadline atau penulis yang terbiasa bermain kasar dalam pendataan.
Bagi saya, di tahun 2009, awal-awal saya mengindustri dengan buku, hal demikian cukup membuat saya risih. Bagaimana buku yang biasa didewakan sebagai jendela dunia ternyata mampu diproses dengan kekerdilan sebagian otak manusia. Sehingga—pada saat itu—prastise buku bagi saya menemukan dekadensi. Saya menjadi pesimis. Sekalipun faktanya buku tetaplah memberi informasi, tapi kepicikan dalam memprosesnya sangatlah mengusik hati.
Itulah sebuah komoditas. Bagi teman-teman saya yang terbiasa bermain di surat kabar, baik dengan mengirim cerpen, opini, atau resensi, mendapat limpahan proyek untuk menulis di penerbit seperti mendapat tiket untuk singgah di surga walau cukup di serambinya saja. Bagaimana tidak, fee surat kabar yang rata-rata kisaran 300 rb. Hingga 800 ribu itu berbanding jauh dengan fee dari memproyek buku yang bisa berkisaran antara 1 jt hingga 2,5 jt.
Saya memang orang yang haus di era 2004 hingga 2008. Orang yang begitu kepo akan dunia perbukuan. saya yang haus, akhirnya memang mendapat jatah untuk meneguk sebotol air mineral. Hanya saja, sayang seribu sayang, sebotol air mineral tersebut ternyata sudah ternodai oleh debu-debu jalanan. Hingga terpaksalah saya meminumnya, daripada saya harus menelan umur tanpa asupan walau berupa air mineral saja.
Era 2009 dengan segelas ‘air mineral’ penuh debu itu, saya analogikan seperti seseorang yang pada dasarnya hobi wisata kuliner, tapi mendadak jera ketika diberi jatah untuk menelisik dapurnya. Lalu perlahan-lahan rasa jera itu saya obati, saya memulai bisa maklum, kebetulan di 2010-nya saya bisa bekerja di penerbit secara tetap. Maka di sinilah saya mulai belajar hokum-hukum industri.
Saya tidak berniat mengeneralisir fakta ini, tapi saya hanya menceritakan kasus yang pernah terjadi. Toh, bagaimana pun saya sudah merasa berterima kasih kepada Tuhan Yang Esa atas episode tersesat tersebut. Setidaknya ‘air mineral’ penuh debu itu telah menolong dahaga berkepanjangan saya.
Yogyakarta, 26 April 2012
Pada kategori “Koper Karir” saya akan mencoba konsisten untuk menuliskan cerita-cerita di balik pofesi dan jejak saya selama kerja di penerbit, dan pengalaman dunia literasi lainnya. Semoga bermanfaat atau paling tidak memberi sumbangsih khilafnya insting sesat (kita).