Laporan Analisis Karya Sastra Novel
Judul :Safinah Berkalung Jilbab
Karya : Maulana Mubarok/Naqib Najah
Disusun oleh
Nama : Osmaini Sutra Haryati
Kelas: XI.IA.1
Guru Pembimbing
Dra. Yumasnifa, S.Pd
SMAN 3 SOLOK SELATAN
T.P 2011/2012
Hasil dan Pembahasan
A. Sinopsis
Di kos-kosan Mbah Markono Yogyakarta, Menetap beberapa orang mahasiswa. Diantaranya, Badrun, Munif, Bandi, Patih. Badrun dan Munif tinggal sekamar. Mereka menjalani kehidupan bersma dari hari ke hari.Susah senang mereka rasakan bersama meski terkadang terjadi perselisihan.
Kehidupan Munif dan Badrun serta teman-teman kos lainnya masih sagat kental dengan gaya pemuda kebanyakan. Hidup mereka asal-asalan, rasa menghargai dan tanggung jawab masih sangat rendah. Kepedulian terhadap sesame hamper tidak ada. Banyak keseharian mereka yang dipenuhi dengan merugikan sesama asalkan pribadinya untung. Yang ada di pikiran mereka masih seputar bagimana mereka bisa tetap selamat di tengah banyaknya masalah. Tak jarang mereka melupakan nasib orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Layaknya perjalanan hidup muda-mudi pada umumnya, kehidupan mereka juga tak lepas dari yang namanya cinta. Ada seorang mahasiswi yang menyukai Munif. Namanya Faizah, gadis itu masih satu fakultas dengan mereka yaitu di bidang keagamaan. Tapi sayangnya Munif tak memiliki perasaan yang sama meski Faizah sudah memberikan banyak perhatian kepadanya. Faizah banyak membantu Munif terutama di bidang makanan walaupun Badrunlah yang lebih sering menikmati pemberian Faizah. Sebagaimana kebanyakan mahasiswa yang hidup di kos-kosan, Munif dan Badrun sering mengalami masalah di bidang makanan dan disaat itulah Faizah selalu ada.
Di sisi lain, ternyata Munif lebih menyukai Safinah. Safinah seorang gadis anggun beperawakan santun. Dia merupakan mahasisiwi berpendidikan yang sangat alim dan menghargai perjuangan serta kehidupan. Tapi sayangnya lagi, Safinah tak menyimpan perasaan yang istimewa terhadap Munif. Dia hanya melihat Munif sebagai seorang teman. Hal itulah yang tampaknya belum disadari sang Munif yang masih menaruh harapan terhadap Safinah.
Safinah memiliki seorang teman dekat bernama Titin.Titin adalah gadis desa yang berasal dari Klaten. Dia mempunyai jiwa sosial dan kepedulian yang sangat luar biasa terutama terhadap kehidupan desa. Kepeduliannya terhadap kehidupan penduduk desa yang sangat tinggi membutanya terkesan memandang sebelah mata masyarakat kota.
Untuk menuangkan apa yang dia rasakan, Titin sempat membuat karangan dalam beberapa lembar kertas yang menunjukakan bahwa dia sangat prihatin melihat kehidupan penduduk desa khususnya penduduk laki-laki. Menurutnya, laki-laki di desa mempunyai tanggung jawab dan beban yang sangat berat. Berbanding terbalik dengan kehidupan di kota.
Tulisan itu diberikan Titin kepada Safinah, dan Safinah meminta
Munif turut membacanya. Safinah dan Munif sama-sama tidak bisa menerima apa yang dijelaskan tulisan tersebut. Mereka merasa semua itu sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang mereka rasakan. Dalam tulisan Titin dikatakan bahwa sesungguhnya laki-laki lebih berhak mendapatkan perhatian daripada perempuan. Mereka harus lebih dibela karena tanggung jawab mereka lebih besar dan banyak dari mereka yang tertindas. Semua itu sangat bertolak belakang dengan pandangan Munif, Safinah dan kebanyakan orang yang menganggap bahwa perempuanlah yang lebih tertindas dan butuh pembelaan.
Suatu hari, Safinah yang sangat menyayangi temannya Titin merasa sangat kaget dan khawatir setelah mengetahui temannya pulang kampung secara mendadak dan tanpa memberi kabar. Safinah takut terjadi sesuatu kepada Titin, karena sebelumnya dia melihat sahabatnya tersebut sedang gusar disebabkan adanya masalah yang terjadi dengan tetangga di kampungnya Klaten.
Safinah yang ingin tahu bagaimana keadaan Titin sebenarnya meminta Munif dan Badrun untuk menemaninya menyusul Titin ke Klaten. Mereka berrangkat dengan mobil Safinah yang dikendarai sopir pribadinya.
Setibanya di Klaten, mereka mendapati Titin dalam keadaan sehat dan bak-baik saja. Kehidupan disana sangat jauh berbeda dengan yang mereka jalani di kota. Sepintas mereka mulai mengamati keadaan dan mencoba-coba menarik kesimpulan tentang apa yang sedang terjadi pada Titin dan kehidupannya di desa.
Untuk menjawab kegelisahan dan rasa penasaran safinah beserta teman-teman, Titin menjelaskan bahwa ia pulang tiba-tiba karena tetangganya yakni suami Mbak Mar sedang sakit keras. Ia sangat menyayangi keluarga tersebut . Disana Titin mengajak Safinah Badrun dan Munif untuk lebih mengerti kehidupan desa. Kehidupan yang penuh perjuangan,beban dan tanggung jawab berat bagi setiap penduduknya terutama laki-laki.
Di desa Titin, Munif dan teman-teman banyak belajar tentang tanggung jawab dan sulitnya kehidupan . Disana mereka belajar menjadi orang yang lebih bersyukur. Mereka juga diajak Titin ke rumah Mbak Mar untuk melihat kehidupan keluarga Mbak Mar dan suaminya yang sedang sakit. Kegiatan mereka mengunjungi kediaman Mbak Mar membuat hati Safinah, Badrun, dan Munif bergetar hebat. Mereka sangat prihatin.
Beberapa hari Safinah dan kawan-kawan memjalani kehidupan di desa. Berbaur dengan penduduk desa dan mencoba masuk ke dalam keseharian mereka. Hal itu membuat para mahasiswa kota tersebut mulai memahami apa yang dirasakan Titin dan semua rangkaian karangan dari Titin mengenai perasaannya. Meskipun sebenarnya mereka tetap menganggap bahwa persepsi Titin yang menurutnya tak bisa diganggu gugat itu tidak bisa dipakai dalam kehidupan kota.
Di lain sisi, selama di Klaten Munif juga mulai menyadari bahwa Safinah tak mungkin ia miliki. Ia membuang jauh-jauh perasaan sukanya kepada Safinah. Ia mulai berusaha untuk bersikap biasa terhadap Safinah, dan akhirnya ia berhasil. Munif pun mulai bisa menganggap Safinah sebatas Teman.
Setelah merasa cukup puas bersama Titin di desanya, Safinah, Munif, Badrun memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Kebersamaan mereka dengan penduduk desa membuat kepulangan mereka menjadi perpisahan yang cukup mengharukan. Terutama dengan keluarga Titin dan keluarga Mbak Mar. Rasa sayang diantara mereka sudah cukup tercipta walaupun mereka hanya bersama dalam waktu tiga hari.
Akhirnya Munif dan kawan-kawan pulang dan meninggalkan Titin yang masih ingin berada di kampung halaman dan meninggalkan kuliah untuk sementara. Mereka pulang dengan pengalaman dan pelajaran berharga mengenai sebuah tanggung jawab serta kepedulian terhadap sesama. Mereka mendapatkan hal yang jauh lebih berharga dari sekedar kabar mengenai keadaan Titin yang mulanya menjadi tujuan Safinah dan teman-teman.
Setibanya di Yogyakarta, mereka kembali melakukan aktifitas sebagai mahasiswa seperti sebelumnya. Kali ini mereka sudah menjadi individu yang lebih baik. Individu yang lebih bertanggung jawab dan lebih menghargai kehidupan.
B. Unsur Instrinsik
1. Tema
Tema novel “Safinah Berkalung Jilbab” adalah tanggung
jawab. Semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan memiliki sama-sama memiliki tanggung jawab . Tanggung jawab masing-masing individu sama pentingnya dalam kehidupan .
Tema pada novel “Safinah Berkalung Jilbab” diungkapkan
Secara tersirat ( implisit ) karena tidak ditemukan kutipan atau tulisan yang secara langsung menyatakan bahwa temanya adalah tanggung jawab. Bukti bahwa tema pada novel ini adalah tanggung jawab terlihat dari banyaknya dikisahkan masalah-masalah yang berhubungan dan mengemukakan tanggung jawab secara kental dan dominan. Dalam novel juga dipermasalahkan mengenai hak laki-laki dan perempuan di bidang penghargaan kerja keras dan tanggung jawab. Perbedaan jenis tanggung jawab wanita desa dengan kota juga menjadi bahasan penting dalam cerita. Itulah yang menjadi dasar ditariknya kesimpulan bahwa tema novel “ Safinah Berkalung Jilbab ” adalah tanggung jawab.
2. Amanat
Amanat yang bisa diambil setelah membaca novel “ Safinah Berkalung Jilbab ” adalah sebagai berikut :
a. Berusahalah untuk hidup hemat dan jangan menghambur
hamburkan harta. Amanat tersebut disampaikan melalui kutipan :
“ Kita sebagai calon pendidik masyarakat harus membiasakan hidup hemat, jidup yang tidak berlebih-lebihan.” Pada halaman 33.
b. Janganlah berlebihan mencintai orang lain. Buktinya pada halaman 60 dengan kutipan :
“ …. astagfirullah ! bukankah manusia ilarang berlebih-lebihan dalam mencintai kecuali kepada allah dia yang maha kuasa.”.
c. Kita harus menanamkan jiwa kesetiakawanan dalam hidup. Pesan tersebut disampaikan pada halaman 61 melalui kutipan:
“Ditenangkannya hati Munif. Badrun menyalakan dispenser….supaya kawannya sedikit tenang….Badrun jadi khawatir melihat sahabatnya.”
(Pada kutipan tersebut digambarkan kepedulian dan nilai persahabatan diantara Munif dan Badrun yang sudah sepantasnya kita tiru).
d. Ikhlaslah dalam berbuat sesuatu. Amanat tersebut disampaikan pengarang melalui kutipan pada halaman 63 yaitu :
“ Dalam sebuah majlis disampaikan bahwa barang siapa beramal dengan ikhlas, maka percayalah Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula.”.
e. Ada banyak isyarat yang disinyalkan Allah sebelum menunujukkan atau berbuat sesuatu, kita sebagai manusia hendaklah memahaminya. Buktinya terdapat pada kutipan:
“…. Kita tak pernah lepas dari mimpi…. Tuhan masih menyediakan wahana bagi manusia untuk memperoleh petunjuk …. Isyarat.” Pada halaman 68.
f. Kita harus menyadari dan memahami bahwa antara masyarakat kota dan desa pasti ada perbedaan. Amanat tersebut disampaikan melalui kutipan:
“ Perempuan yang Safinah ceritakan ini memang gadis desa. Tidak seperti Safinah atau Mas Munif yang berasal dari kota. Mungkin beragkat dari sinilah dia berprespektif demikian. Sungguh bertolak belakang.” Yang ditemukan pada halaman 87.
g. Sebisa mungkin hendaklah kita mengusahakan keadilan antara laki-laki dengan perempuan. Bukti terdapatnya amanat ini bisa kita baca pada halaman 87 dngan kutipan :
“ Mengapa sampai saat ini kita selalu larut dalam euphoria pembelaan kepada perempuan…. Keturunan Adam sering tertindas dengan yang namanya tanggung jawab.”.
h. Nasib berada di tangan Allah, kita hendaklah bersiap-siap menghadapi suratan tuahn atau takdir Allah terhadap masa depan kita. Amanat tersebut disampaikan melalui kutipan pada halaman 91 yaitu:
“ Tetanggaku yang dulu kecil sampai dewasa kerjaannya belajar terus, kini malah menjadi tukang jahit rumahan.”.
i. Hargailah perempuan, jangan sekali-kali menyakitinya. Buktinya tertulis pada cuplikan percakapan Badrun dan Munif di halaman 101, terutama pada bagian penuturan Munif yang menyatakan:
“ Aku terlahir dari rahim perempuan, maka haram sekali bagiku untuk menghianati kaum mereka.”
.
j. Belajarlah untuk selalu bertanggung jawab. Bukti penyampaian amanat tersebut terdapat pada halaman 192 dengan kutipan:
“ Pertanggung jawaban seorang manusia akan diperhitungkan di akhirat kelak.”.
3. Penokohan
Dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab” terdapat beberapa
tokoh yang mengisi cerita. Setiap tokoh memiliki watak atau sifat yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut :
a. Safinah
Adalah seorang gadis yang :
1.) Anggun, baik dan santun. Diungkapkan secara analitis melalui
Kutipan yang bisa ditemukan pada halaman 42-43.
berikut:
“berjalanlah perempuan berjilbab anggun, berperangai santun…. Safinah Putri Mawardah.”
2.) Cerdas. Watak cerdas Safinah juga disampaikan secara analitis
oleh pengarang. Buktinya terdapat pada kutipan pada halaman 53, yaitu :
“ Lelaki bernama Munif …. Kedatangan perempuan cerdas bernama Safinah.”
3.) Alim dan berpribadi luhur. Dinyatakan secara analitis pada
kutipan
“ Perempuan….itu menghukumi haram ke tempat perbelanjaan tanpa gandengan ibu” (halaman 43).
4.) Sabar. Watak sabar Safinah diungkapakan secara dramatik
melalui kutipan :
“ Dia ( Safinah ) tak merasa kesal. Bukankah muslimah yang patuh pantang menyulut amarah.” pada halaman 45.
b. Munif
Munif adalah seorang pemuda yang bersifat sebagai berikut :
1.) Religius dan baik. Dinyatakan secara dramatis, dibuktikan
melalui kutipan
“ Namanya juga munif, dalm keadaan hening-gaduh, genting-santai, tetap saja dia membaca dzikir.” (Halaman 53).
2.) Keras kepala. Watak munif yang seperti ini diungkapkan
pengarang secara langsung pada halaman 18. Bukti dalam bentuk kutipannya adalah :
“ Ya, buat apa? Sebab sehebat apapun saudara mengeluarkan hujjah, dia tetap menjadi Munif yang keras kepala, yang menganggap profesi guru adalah profesi menjanjikan satu tempat di surga. Pasti! ”.
3.) Ngaco ( konyol ). Buktinya terdapat pada kutipan “ ….. sama
ngaconya seperti Munif.” ( halaman 22 ).
4.) Jorok. Joroknya seorang Munif disampaikan secara dramatis oleh
pengarang melalui kutipan
“ Munif yang belum mandi,belum gosok gigi, tapi sudah makan nasi pecel satu bungkus, akhirnya langsung saja bergegas menuju ruang depan.” ( halaman 52).
c. Badrun
Badrun merupakan seorang mahasiswa yang tinggal sekamar
dengan Munif. Watak Badrun diantaranya adalah :
1.) Usil. Bukti bahwa Badrun berwatak usil terdapat pada kutipan
“sekali lagi badrun mengamati….memasukkan sendok ke dalam mulut Munif yang sedang tertidur pulas.” ( halaman 52 )
2.) Cuek. Sikap cuek Badrun digambarkan pada kutipan:
“ Badrun tak peduli. Dikunyahnya rempeyek lauk nasi pecel yang mulai layu, sambil dinyanyikannya lagu mandarin.”
( halaman 20)
3.) Rakus. Diungkapkan secara dramatis pada halaman 102 melaui
kutipan “ Melihat semuanya…. Tak bisa ditahan selera makannya itu.”
4.) Suka memanfaatkan kesempitan orang lain. Watak Badrun yang
seperti ini disampaikan pengarang melalui kutipan
“ Badrun yang selalu berfikir simple, plus tak pernah lepas untuk memanfaatkan …. hebat.” Pada halaman 105-106.
d. Faizah
Faizah adalah seorang gadis yang menaruh perasaan suka terhadap Munif. Watak mahasiswi berbadan besar ini antara lain :
1.) Genit dan baik. Kegenitan faizah disampaikan pengarang secara
analitis pada halaman 42 melalui kutipan:
“ Diingatnya Faizah yang gendut, yang genit, yang dia katakan
perempuan sial itu, ketika menolong Munif dan badrun di tengah
penindasan enzim lapar”.
2.) Rakus. Dibuktikan pada kutipan “ …. Faizah yang mempunyai
selera makan luar biasa ”. ( halaman 50-51 ).
e. Titin
Titin adalah seorang gadis desa yang merupakan teman baik Safinah. Watak Titin antara lain sebagai berikut :
1.) Keras dan sederhana.Diungkapkan secara analitik, dibuktikan pada kutipan berikut:
“ Dia biasa-biasa saja kok, sekalipun wataknya agak keras.” ( halaman 110 ).
2.) Tegas, berintegritas dan berpendirian. Watak Titin yang seperti ini juga diungkanpkan secara analitik melalui kutipan pada halaman 156, yaitu :
“ ….perempuan berintegritas tinggi. Sikapnya ….namun tetap hangat adalah symbol bagaimana dia adalah seorang perempuan berpndirian kuat.”.
f. Bandi
Bandi yang juga teman satu kos Munif dan Badrun ini memiliki watak sebagai berikut :
1.) Cepat tanggap. Disampaikan secara dramatis melalui kutipan:
“Bandi tertawa….mendadak saja berhenti ketika melihat wajah muram Munif.” ( halaman 75 ).
2.) Pendiam. Sifat pendiam Bandi dibuktikan di halaman 76 tepatnya pada kutipan “ Bandi yang sebenarnya pendiam akhirnya ikut ngomong juga.”.
g. Patih
Patih adalah seorang pemuda yang memiliki sifat sabar, berani dan suka nonton. Pengarang menjelaskan watak Patih melalui kutipan:
“ Mungkin kandidat pertama yang dia panggil adalah Patih. Remaja asal Jawa Timur ini, yang sukanya nonton sinetron striping sehabis isya ini, memang sedang gila-gilanya dengan pernikahan. Terhitung dua kali keberaniannya melamar perempuan berujung dengan kekecewaan.” (halaman 47-48).
h. Udin
Udin adalah bocah kecil putra Mbah Markono, bapak kos Munif dan Badrun. Udin bersifat konyol, iseng dan percaya diri. Bukti bahwa watak udin demikian dituliskan pada kutipan:
“ Sebab pernh oleh udin yang sukanya nyari kerjaan….tutur Udin percaya diri.” (halaman 81).
i. Sopir Safinah
Sopir pribadi safinah adalah seorang yang fleksibel dan wataknya berubah-ubah sesuai dengan keinginan majikannya Safinah. Watak Sopir Safinah diantaranya adalah :
1.) Patuh. Sifat patuh sopir Safinah dibuktikan pada kutipan
“… bahwa kelakuan Sopir Safinah yang sedemikian…. berdasarkan tuntutan skenario non Finah saja.” (halaman 109-110).
2.) Riang. Pengarang menyampaikan watak riang Sang Sopir di halaman 111, tepatnya pada kutipan “ …lelaki yang mengemudikan mobil itu masih saja terlihat riang.”.
3.) Tenang. Diungkapkan pada halaman 116 melalui kutipan “ Munif kaget, Safinah lebih merinding….sopir santai saja.”.
4.) Banci / bencong. Sifat Sopir Safinah yang seperti ini diungkapkan pengarang secara dramatis melalui perbuatan tokoh yang terlihat pada kutipan:
“ Oke dech akika…. Ucap Sopir Safinah sambil melambai-lambaikan tangannya.” (halaman 118)
j. Mbah Markono
Mbah Markono adalah bapak pemilik kos-kosan tempat Munif dan kawan-kawan menetap selama kuliah di Yogyakarta. Watak Mbah Markono adalah sebagai berikut :
1.) Ramah. Watak ramah Mbah Markono diungkapkan secara dramatik pada kutipan berikut:
“ “oh, neng Finah, toh!” sapa Mbah Markono dengan senyuman” ( halaman 47 ).
2.) Aneh. Dasar diambilnya kesimpulan bahwa Mbah Markono berwatak aneh adalah kutipan pada halaman 46-47 berikut :
“ saking cintanya sama bunyi burung, sering beliau ( Mbah Markono ) melalaikan bunyi-bunyi yang lain. Semisal: bunyi istrinya yang sedang berteriak”
k. Wawan
Wawan merupakan putra Mbak Mar, tetangga Titin di Klaten. Watak Wawan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.) Patuh dan bertanggung jawab. Penulis menyimpulkan bahwa Wawan memiliki sikap patuh dan bertanggung jawab berdasarkan kepada kutipan yang ditemukan pada halaman 140, yaitu :
“ “ Wan, bapak batuk, tuh! Cepetan masuk rumah” teriak ibu
dari dapur. Sementara bocah itu lari tergopoh-gopoh memnuhi panggilan sang ibu”.
2.) Tegas. Bukti bahwa Wawan berwatak tegas terdapat pada kutipan berikut ini :
“ “Aku tak bisa bermain, aku capek!” tegas sekali bocah itu (Wawan) bertutur “.(halaman 144)
l. Ibu Titin.
Ibu Titin merupakan seorang wanita yang perhatian dan baik. Bukti bahwa watak Ibu Titin seperti itu diungkapkan pada kutipan di halaman 141, yaitu :
“ …. Tetangga sebaik ibu Titin … sebelum dia berangkat ke kantor, dia subukkan dirinya menjaga bapak tua itu ”.
m. Mbak Mar
Mbak Mar adalah tetangga baik Titin di kampungnya Klaten, Yogyakarta. Watak Mbak Mar antara lain:
1.) Setia, santun dan baik. Diambilnya kesimpulan bahwa Mbak
Mar memiliki watak seperti itu didasarkan pada kutipan yang terdapat di halaman 139 yaitu :
“ Dan sesosok perempuan berperangai santun, berbadan sedikit tambun,menjaganya tanpa letih.”
2.) Bertanggung jawab dan gigih. Buktinya terdapat pada kutipan berikut:
“ Ya, ikan-ikan hasil buruan sungai, adalah barang
dagangannya bila pagi menentang. Perempuan itu berjalan
menyusuri jalan kampung sambil membawa nampan, dan
meneriakkan: ikan, ikan..!”.
4 . Latar
Setelah membaca, akan ditemukan beberapa latar dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab” , yaitu sebagai berikut :
a. Tempat.
Latar-latar tempat dalm cerita yag dikisahkan novel “Safinah Berkalung Jilbab” adalah sebagai berikut :
1.) Yogyakarta. Bukti bahwa Yogyakarta menjadi latar cerita terdapat pada kutipan berikut ini :
“ Mereka berdua adlah pemuda yang berjuang menuntut ilmu di Yogyakarta”. ( halaman 27 )
2.) Kios PS-1
Disimpulkannya bahwa kios PS-1 merupakan salah satu latar tempat pada novel ini didasarkan pada kutipan di halaman 7, yaitu:
“Di sebuah kios bertuliskan PS-1, disewakan, bermenit-menit dia duduk di bangku palstik”.
3.) Klaten.
Buktinya terdapat pada kutipan “ Mereka tiab di Klaten yang biasa-biasa saja.” ( halaman 136 )
4.) Rumah tua milik Mbah Markono
Kutipan berikut membuktikan bahwa salah satu latar dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab” adalah rumah Mbah markono.
” Sesampainya di rumah tua, ya, di rumah yang tertulis sebuah nama : H. Markono di atas daun pintunya, dia berhenti.”.( halaman 44 )
5.) Panti pijat Pak Warso
Panti Pijat pak Warso juga menjadi salah satu tempat berlangsungnya cerita dari novel “Safinah Berkalung Jilbab”. Buktinya dapat ditemukan pada halaman 70-71. Kutipannya yaitu : “ ….mereka sampai di Panti Pijat pak warso”.
6.) Warnet
Penulis mengambil kesimpulan bahwa Warnet merupakan salah satu latar tempat dalam cerita berdasarkan kutipan pada halaman 95, yaitu : “Dua hari Munif bolak-balik tanpa lelah di warung internet.”.
7.) Kamar Kos no.13
Bukti bahwa Kamar Kos no.13 menjadi salah satu latar tempat pada novel “Safinah berkalung Jibab” adalah kutipan pada halaman 128, yaitu :
“Di sudut lain, di Kamar Kos no.13, remaja berprestasi calon anggota MUI, sedang duduk khusyuk pula di atas sajadah.”.
8.) Masjid
Diambilnya keputusan bahwa Masjid merupakan salah satu latar tempat pada rangkaian kisah Safinah dan kawan-kawan berdasarkan pada kutipan berikut ini:
“ Di serambi masjid itu, Badrun duduk bersila berhadap-hadapan dengan Safinah, sedang si Munif, duduk selonjoran sambil bersandar di tiang masjid .” ( halaman 133).
b. Waktu
Dalam novel “Safinah Berkalung Jilabab”, juga terdapat beberapa latar waktu yang menjadikan pembaca semakin mudah membayangkan pristiwa yang terjadi dalam cerita. Latar waktu tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1.) Era Pendidikan / Zaman Modern
Jika dilihat secara umum, waktu terjadinya peristiwa dalam novel adalah pada zaman modern atau zaman yang dimana pentingnya pendidikan sudah disadari banyak kalangan. Pengarang novel menyampaikan bahwa latar waktu cerita adalah zaman modern tidak secara langsung. Namun disampaikan secara tersirat melalui gaya hidup tokoh dalam novel, dan gambaran-gambaran keadaan tempat tokoh menetap serta masalah-masalah yang terjadi dalam novel.
Penulis mengambil kesimpulan seperti itu karena, kisah-kisah dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab” penuh dengan kemodernan, baik dari segi pendidikan maupun gaya hidup. Seperti posisi tokoh Safinah dan kawan-kawan yang merupakan mahasiswa serta mereka yang menetap di kos-kosan selama kuliah. Sepengetahuan penulis, hidup di kos-kosan merupakan gaya hidup pada zaman modern.
2.) Siang
Secara khusus, ada beberapa latar waktu lain yang terdapat pada novel. Salah satunya adalah siang hari.Salah satu dari sekian banyak bukti bahwa siang hari merupakan latar waktu dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab” adalah pada kutipan berikut ini :
“ Mbah Markono, siang-siang begini tidaklah pergi keman-mana.” (halaman 46)
3.) Pagi
Waktu pagi juga merupakan salah satu latar waktu pada novel “Safinah Berkalung Jilbab”. Dasar diambilnya kesimpulan seperti itu adalah kutipan pada halaman 49, yaitu:
“ Bila dihitung-hitung , pagi ini, di area kos itu, terdengar sudah tiga ketukan pintu seoarang perempuan.”
4.) Sore
Diputuskannya bahwa waktu sore merupakan salah satu latar waktu pada serentetan cerita Mahasiswa Yogyakarta ini merujuk kepada kutipan yang terdapat di halaman 140, yaitu :
“Sore itu, senja hendak meninggalakan cakrawala….peraduan”.
5.) Malam
Malam juga merupakan latar waktu dalam novel karya Maulana Mubarok yang satu ini. Hal itu dibuktikan dengan terdapatnya kutipan :“ Dengan pasrah ia panjatkan do’a setelah tahajud.” (halaman 93). Kata Tahajud menunjukkan bahwa peristiwa pada saat itu terjadi malam hari.
c. Suasana
Beberapa latar suasana dalam novel “ Safinah Berkalung Jilbab adalah sebagai berikut :
1.) Kesal, Marah dan lucu.
Dibuktikan dengan adanya kutipan yang terdapat pada halaman 25, yaitu : ”Melihat Badrun cekikikan, Munif marah. Marah besar.”.
2.) Kaget dan takut.
Suasana kaget dan takut yang dialami tokoh dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab” dapat ditemukan pada banyak lembar halaman. Salah satunya adalah :
“ Ada yang bergetar di dalam kamar. Getaran yang tentu mengagetkan.” ( halaman 24 ).
3.) Lengang
Salah satu kutipan yang membuktikan bahwa dalam novel yang banyak disisipkan gurauan ini juga terdapat suasana lengang adalah kutipan pada halaman 44, yaitu : “ Rumah Mbah Markono masih lengang”.
4.) Gelisah, penuh kekhawatiran dan menegangkan
Suasana seperti ini juga banyak terselip diantara aktifitas-aktifitas tokoh yang mayoritas adalah mahasiswa.salah satunya dapat kita lihat pada kutipan halaman 32, yaitu :
“ Badrun berjalan bolak-balik mengitari luas kamar kos sambil dikipas-kipaskannya majalah usang itu. Dia mengkhawatirkan sesuatu.”
5.) Syahdu
Penulis menemukan suasana syahdu pada halamn 53, tepatnya pada kutipan “ Pada ruang tamu terjadi pertemuan yang amat syahdu.”.
6.) Seram
Suasana seram juga menjadi salah satu latar peristiwa pada novel “ Safinah Berkalung jilbab”. Hal itu ditemukan pada kutipan berikut ini :
“ Terlihatlah suasana kamar itu, pajangan ayat kursi yang kejelasannya samar-samar, foto perkawinan tua tertempel di dinding kusam kamar itu.” ( halaman 50).
7.) Senang
Suasana senang tak pernah lepas dari kisah apapun. Semua kisah pasti tersisip sebuah kesenangan. Begitu pula kisah “Safinah Berkalung Jilbab”. Salah satu bukti yang menunjukkan suasana senang pada novel ini adalah sebagai berikut:
“ Hahahaha...begitulah bunyi tawa Patih, badrun, Udin kemudian disusul dengan Bandi.” ( halaman 79).
5. Gaya Bahasa
Beberapa gaya bahasa yang terdapat pada novel yang mengajarkan tentang tanggug jawab ini adalah:
a.Hiperbola, contohnya pada kutipan berikut ini:
“ Lima menit saudara mendengar nyanyian itu, maka bersiaplah menjadi manusia yang merugi sepanjang abad.”(halaman 59).
b. Metafora, Salah satunya terdapat pada kutipan pada halaman 73,
yaitu:
“ Jangan bilang kamu baru saja bertemu Dewi Mimpi di sudut remang-remang.”.
c. Personifikasi, ditemukan pada beberapa halaman, salah satunya
halaman 127 dengan kutipan sebagai berikut :
“ Kutitipkan padamu belaian angin, duka cintaku malam ini, Safinah.”
d. Repetisi, salah satunya ditemukan pada kutipan :
“ Munif yang masih memekai baju koko seperti semalam, masih duduk di atas sajadah semalam, masih di dalam kamar kos semalam, menerima telepon itu dengan bangga” ( halaman 131)
e. Perumpamaan, gaya bahasa ini juga sering dijumpai dalam untaian
kisah “Safinah Berkalung Jibab”. Salah satunya pada halaman 164, dengan kutipan sebagai berikut:
“ Bau mulut keduanya seperti bau mulut tarzan hutan yang tak pernah sikat gigi.”.
6. Alur
Alur yang dugunakan oleh Maulana Mubarok dalam menyajikan kisah dalam novel ini adalah alur maju. Hal itu disimpulkan berdasarkan jalan cerita novel yang berurutan dan teratur sesuai dengan tahapan alur yang sesungguhnya. Dimulai dari pengenalan tokoh dan berakhir dengan penyelesaian.
7. Sudut Pandang
Sudut pandang atau posisi pengarang dalam kisah “Safinah Berkalung Jilbab” adalah orang ke-tiga di luar cerita. Kesimpulan tersebut diambil, karena cerita dalam novel disajikan dengan menggunakan kata ganti Dia, nama orang, mereka dan bentuk kata ganti orang ke-tiga lainnya. Selain itu, dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab” pengarang tidak memiliki peran atau tidak bertindak sebagai tokoh.
C. Unsur ektrinsik
Adapun nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam novel
“Safinah Berkalung Jilbab” adalah sebagai berikut :
1. Nilai moral
Ada beberapa nilai moral yang disisipkan dalam cerita ini. Antara lain ditemukan pada kutipan berikut :
a. “ Banyak dari perempuan yang Munif dapati, ternyata mereka lebih memilih sendiri ketimbang bersuami. Mereka menyesal, sebab memutuskan hidup sebagai seorang istri, berarti memutuskan menjadi pembantu sang suami. Padahal hakikat perikahan bukanlah demikian. Allah menjadikan pernikahan sebagai bentuk toleransi islam atas berbagai macam kebutuhan manusia yang tak bisa dipenuhi secara individual.”( halaman 99 )
Kutipan tersebut menyiratkan moral seorang perempuan yang sudah menyalahi kodrat. Menyesali diri karna ditakdirkan menjadi seorang istri merupakan sebuah cacat moralyang serius bagi wanita.”( halaman 100 )
b. Membaca pemberontakan yang bayak kita temui, bisa jadi hanya lantaran sifat dasar manusia sifat dasar manusia. Bukan merupakan kesejatian kebenaran.”
Dari kutipan di atas, terlihat keadaan moral yang sudah jauh dari seharusnya. Sebagai manusia terutama perempuan yang bermoral tak sepantasnya kita melakukan pemberontakan. Ada bayak cara yang bisa dilakukan untuk menyalurkan spirasi dan bukan dengan pemberontakkan.
c. “ “Lah, kalau pengen tanya seperti mbak ini, lho. Santun! Tidak menyakitkan seperti kamu,” ternyata ibu gendut itu masih merasa kesal.”(halaman 115).
Kutipan singkat di atas secara tidak langsung menyampaikan sebuah nilai oral. Dimana, disana disebutkan bahwa sesungguhnya penuturan yang santun dan sopan lebih disukai orang. Perkataan yang menyakitkan sama sekali tidak diinginkan siapapun.
2. Nilai agama
Dalam novel “Safinah Berkalung Jilbab”, banyak terdapat nilai-nilai agama. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Seorang muslim selalu mengucapkan slam apabila bertamu ke rumah seseorang. Dibuktikan dengan kutipan pada halaman 113, yaitu:
“Ah, taka pa-apa. Bukankah kita baru saja mengucap salam dua kali. Dan dalam ajaran agama, batas salam seorang muslim sewaktu bertamu adalah tiga.”
b. “ Haram, Drun! Tak boleh memanfaatkan orang.” (halaman 30)
Banyak kutipan lain yang menyampaikan nilai agama berbau halal dan haram dalam agama. Pada kutipan tersebut dapat kita ambil nilai agama berupa haramnya memanfaatkan orang lain terutama yang dalam kesulitan.”
3. Nilai budaya
Beberapa nilai budaya yang terdapat dalam novel ini antara lain:
a. Pada umumnya, laki-laki desa mempunyai tanggung jawab dan beban yang lebih berat dibandingkan laki-laki kota. Niai budaya tersebut dibuktikan pada kutipan :
“ Lelaki, dalam lingkup orang desa, memang benar-benar ditempa dengan berbagai macam beban. Menurut penuturan sahabatku, sedari kecil mereka sudah dilazimkan dengan berbagai macam kesibukan: sehabis pulang sekolah, mereka pergi ke sawah. Membantu bapak mencari rumput untuk hewan ternak.” (halaman 88).
b. Kebiasaan / budaya masyarakat Jawa yang menyatakan bahwa perempuan adalah simbol kelengkapan. Seperti yang diungkapkan pada kutipan berikut:
“ Perempuan, dalam kultur masyarakat Jawa, adalah symbol kelengkapan. Dalam kultur mereka, seperti yang dituturkan Patih, perempuan diibaratkan sebagai lengan dan lelaki adalah otak.”
4. Nilai pendidikan
Salah satu nilai pendidikan yang terdapat pada novel “ Safinah Berkalug Jilbab” tampak pada kutipan:
“ Siapa yang nggak jengkel coba? Enak-enak lagi serius-seriusnya ngerjain tugas Pak Dosen, eh, hape berdering minta dibacakan sms barunya yang tek penting.”
Kalimat tersebut menggambarkan seorang Munif yang sedang serius belajar demi pendidikannya. Keseriusan Munif dalam pendidikan membuatnya mersa kesal melihat HP berdering mengganggunya yang sedang serius belajar”
Masih banyak nilai pendidikan yang terkandung selain nilai pendidikan di atas. Hanya saja, kebanyakan nilai pendidikan tersebut disampaikan secara tersirat, tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan nilai tersebut.
D. Kelebihan dan Kelemahan Novel
1. Kelebihan
Novel “Safinah Berkalung Jilbab” memiliki banyak kelebihan.
Diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Bahasanya sederhana dan mudah dimengerti
b. Permasalahan yang dikisahkan dalam novel adalah permasalahan yang umum terjadi di kalangan remaja. Dalam kajian kali ini, remaja merupakan subyek utama pembaca novel.
c. Disajikan dengan candaan yang diselipkan bada banyak kalimat. Hal itu membuat novel ini menarik dan tidak membosankan, sekaligus bisa menjadi hiburan pengundang tawa.
d. Urutan cerita dan permasalahannya sederhana, namun terasa kompleks.
2. Kelemahan
Adapun kelemahan novel “Safinah berkalung Jilbab” adalah:
a. Kurangnya tokoh antagonis dalam cerita yang membuatnya tersa kurang menantang
b. Kurangnya masalah seius yang dialami tokoh.