 |
Niki Lauda (kiri) dan James Hunt (kanan) |
Cerita tentang
hidup dengan disiplin tinggi dan hidup liar tanpa aturan ternyata selalu
berjalanan beriringan. Garis bawahi kata beriringan. Dalam arti, di sudut
tertentu akan ada orang-orang yang memuja arti sebuah disiplin. Hidup yang
teratur, bagi kelompok satu ini, menjadi kunci utama meraih ‘puncak’ yang
diinginkan.
Namun di sisi
yang berbeda, ada orang-orang yang mengagumkan kebebasan. Seperti jargon
mereka, hidup hanya untuk bersenang-senang, maka definisi kesuksesan bagi
mereka pun sangatlah pragmatis.
Di dalam
film Rush, Ron
Howard menghadirkan dua sisi itu di dalam satu frame. Niki Lauda mewakili
pihak yang disiplin, James Hunt berdiri pada kubu yang hidup sesuka hati. Hebatnya,
tidak ada judgment yang bersifat
membela pihak disiplin dan pihak yang liar.
***
Di dalam
perjalanan hidup, kita mengenal dua macam kebutuhan. Pertama berkaitan dengan
hal-hal yang bersifat pragmatis. Kedua berkaitan dengan kebutuhan jangka
panjang. Lebih luas lagi, kesuksesan pun mengenal dua poin ini. Istilah pragmatisme
dan cita-cita jangka panjang juga berlaku pada lingkup kesuksesan. Ada
orang-orang yang lebih fokus pada kesuksesan-kesuksesan pragmatis: jika ia bisa
bahagia esok hari atau mempunyai teman yang bisa diajak jalan-jalan setiap
saat, maka di situlah letak kesuksesannya. Ada juga yang mengarahkan pandangnya
ke cita-cita jangka panjang: jika ia belum bisa membangun rumah, atau menaikkan
haji kedua orang tua, maka ia belum bisa dikatakan sukses.
James Hunt
dalam film Rush mengajarkan cara menikmati hidup dengan sudut pandang yang
pragmatis. Ia tidak ambil pusing dengan kompetisi. Membalap baginya hanya
sekadar proses pembahagiaan diri. Tuturnya, “Satu-satu hal yang bisa
membahagiakan saya adalah membalap.” Maka ia menstop tujuan balapannya kecuali
hanya untuk meraih kebahagiaan, tanpa memikirkan karir balapnya lebih panjang.
Hunt, jika
sudah selesai membalap, akan bergabung dengan teman-temannya untuk menghabiskan
malam di bar. Kehidupannya dikelilingi oleh wanita. Dengan teman yang banyak
dan wanita yang selalu bisa dikencanina, ia berpikir bahwa itulah kesuksesan
baginya.
Apa yang
dialami Hunt sama sekali tidak terjadi pada diri Lauda. Ia melihat hidup dengan
sudut pandang yang serius. Kompetisi baginya adalah segalanya. Oleh karenanya,
ketika kali pertama mendapatkan tim di ajang Formula 1, ia berpikir keras untuk
merombak mobil yang berkelas medioker menjadi tunggangan sekelas Ferrari.
Lauda tidak
mengenal kebahagiaan yang bersifat pragmatis. Istilahnya, jika hari ini ia bisa
tertawa puas, belum tentu itu adalah kebahagiaan yang nyata. Bisa jadi itu
adalah pancingan Tuhan apakah kita terlena dengan nikmat yang ada, atau
bersedia berjuang lagi untuk kompetisi berikutnya.
Di dalam
film biografi ini, Ron Howard selaku sutradara membuat satu scene yang cukup describable untuk meninjau Lauda dan kehidupan anti pragmatisnya.
Di malam pertama pernikahan Lauda, ketika ia tidur bersama istrinya, tiba-tiba ia
bangun. Lauda tidak bisa tidur nyenyak waktu itu. Pikirannya mengarah kepada
kompetisi. Di saat ia menatap keluar dinding kaca rumahnya, istri Lauda
bertanya, “Ada apa?” dan jawab Lauda, ia tidak boleh larut di dalam sebuah
kebahagiaan.
Mana yang lebih hebat antara fokus pada kehidupan yang
pragmatis atau berpikir jangka panjang?
Howard
tidak ingin melakukan judgment. Ia
hanya membuat frame yang berisi dua tokoh beda habit itu. Di frame pertama, dengan Lauda sebagai pemerannya,
terdapat beberapa catatan yang berisi prestasi-prestasi Lauda. Seperti meraih
gelar juara F1 pada tahun 1975,
1977
dan 1984.
Di frame
kedua, Howard menunjukkan kenikmatan hidup Hunt dengan banyaknya teman, gaya hidup
yang cenderung berfoya-foya, meraih gelar juara F1 pada tahun 1976, serta
pensiun dini di tahun 1979 ketika usianya baru menginjak 32 tahun.
Howard
menggambarkan, karakter liar Hunt akhirnya berujung pada ajal yang datang lebih
cepat. Ia meninggal di usia 45 tahun. Hunt yang garang di arena balap, menyerah
oleh serangan jantung yang membuatnya dimakamkan pada tahun 1993. Sementara
Lauda dengan keseriusannya menanggapi hidup, mendirikan maskapai Lauda Air yang
menjadi armada bisnisnya di luar arena balap.
***
Di dalam
kehidupan sehari-hari, kita akan bertanya, “Di manakah letak kebahagiaan seseorang?”
Menjawab
pertanyaan ini, tentu butuh sudut pandang yang lebih luas. Kebahagiaan Hunt
bukanlah kebahagiaan bagi Lauda. Kebahagiaan Hunt terletak pada gelak tawanya
bersama para wanita. Sementara kebahagiaan Lauda mengalir ketika otaknya
berpikir keras mengenai kompetisi esok hari.
Khusus
untuk Lauda, kita akan menangkap sebuah paradoks. Bagaimana mungkin kebahagiaan
terletak pada diri seseorang yang selalu berwajah serius? Bagaimana mungkin seseorang
merasakan kebahagiaan di tengah kesibukannya yang terkesan menjenuhkan?
Bukankah cemberut adalah sedih, dan senyum adalah simbol kebahagiaan?
Namun Lauda
membuktikan kebenaran itu. Tentang kebahagiaan yang tidak harus ditempuh lewat
senyum. Tentang arti bahagia yang tidak harus diperjuangkan dengan cara
berhura-hura.
Jika suatu
saat Anda menonton film ini, dan kebetulan Anda begitu fokus dengan
Lauda, maka jangan takut untuk meraih kebahagiaan lewat jalur bersusah payah.
Begitu pun, ketika Anda sangat fokus dengan Hunt, tempuhlah kebahagiaan Anda
lewat gelak tawa. Asal Anda tetap berpikir, Tuhan suka memainkan games di dunia ini. Siapa tahu, tawa
Anda adalah tangis esok hari.
Hunt atau
Lauda? Bertemanlah dengan keduanya.
Yogyakarta,
09 Oktober 2013